
Di usia yang masih belia, Nadiya Nurfaiza (12 tahun) menunjukkan ketekunan dan kedewasaan yang mengesankan dalam menempuh pendidikan dan pembinaan di RTQ Khairukum. Meski baru tujuh bulan bergabung, Nadiya telah menorehkan perkembangan signifikan dalam hafalan Al-Qur’an.
Sebelum masuk RTQ, Nadiya hanya memiliki hafalan satu juz. Namun dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, jumlah hafalannya meningkat menjadi 10½ juz. Pencapaian tersebut lahir dari proses belajar yang konsisten, disiplin, dan penuh kesungguhan.
Perjalanan Nadiya di RTQ juga diwarnai dengan perubahan cita-cita. Jika sebelumnya ia bercita-cita menjadi dosen ekonomi, pandangannya mulai berubah ketika duduk di kelas 6 SD. Melihat ketekunan ibunya, Nadiya kini bermimpi suatu hari memiliki usaha toko kue sendiri—sebuah cita-cita yang tumbuh dari keseharian dan keteladanan keluarga.
Menurut penilaian para musyrifah, Nadiya termasuk santri yang memiliki sifat qanaah dan hidup apa adanya. Ia dikenal patuh terhadap peraturan, menjaga sopan santun, serta menghormati guru dan sesama santri. Sikap tersebut tercermin dari kesehariannya yang sederhana, termasuk dalam hal uang jajan.
Dalam kesehariannya, Nadiya dikenal sangat sederhana dan tidak berlebihan. Uang jajan yang ia terima setiap bulan tergolong minimal dan sering kali jauh di bawah kebiasaan santri seusianya. Ia tidak pernah menuntut orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan tertentu, bahkan lebih memilih menunggu kiriman tanpa meminta. Sikap ini mencerminkan kedewasaan, kepekaan, serta kesadarannya terhadap kondisi keluarga, yang justru membentuk karakter qanaah dan tanggung jawab sejak usia dini.
Nadiya juga dikenal memiliki empati yang tinggi. Ia pernah menceritakan kepada pengurus tentang kondisi ayahnya yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Kesadaran akan kondisi orang tua tersebut justru mendorong Nadiya untuk lebih bersungguh-sungguh dalam belajar.
Semangat dan perjuangannya terlihat dari rutinitas harian. Nadiya termasuk salah satu santri kelas 7 yang rajin bangun lebih awal, sekitar pukul 02.30 hingga 03.00 dini hari, untuk menghafal Al-Qur’an. Ia kerap terlihat mengisi waktu di ruang kelas, fokus menghafal, jarang jajan, aktif mengikuti pelajaran, dan menunjukkan antusiasme tinggi dalam proses belajar.
Selain itu, Nadiya juga pernah dipercaya menjadi perwakilan RTQ dalam ajang MiLBos Bogor, mengikuti lomba cabang Lomba Cerdas Cermat (LCC). Keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut menunjukkan keseimbangan antara akademik, keaktifan, dan kepercayaan diri.
Kisah Nadiya Nurfaiza menjadi gambaran bahwa ketekunan, kesederhanaan, dan empati dapat berjalan beriringan dengan prestasi. Dalam diam dan kesederhanaannya, Nadiya terus melangkah, menata mimpi, dan menguatkan hafalan—menjadi teladan kecil yang bermakna di lingkungan RTQ Khairukum.




