-
30 September 2026 7:02 pm

Menempa Jiwa kepemimpinan dan kemandiran 60 santri Tahfidz Quran

Menempa Jiwa kepemimpinan dan kemandiran 60 santri Tahfidz Quran
Hari kedua Leadership Camp menjadi bagian dari ikhtiar pondok dalam membentuk santri yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga memiliki karakter, mental kepemimpinan, dan kepedulian terhadap sesama. Sejak sebelum matahari terbit, para santri telah dibiasakan memulai hari dengan qiyamul lail. Usai beribadah, mereka melanjutkan kegiatan tracking menyusuri kawasan Gunung Pancar di sekitar lokasi camp. Bagi pondok, perjalanan ini bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sarana untuk mengajarkan ketahanan, keberanian, dan kebersamaan. Ketika jalur mulai menanjak dan rasa lelah muncul, santri belajar untuk tidak mudah menyerah serta saling menguatkan. “Tadi saya sempat merasa capek dan ingin berhenti, tapi ketika melihat teman-teman tetap berjalan, saya jadi ingin terus melangkah. Saya belajar bahwa ternyata kita lebih kuat ketika tidak berjalan sendirian,” ungkap salah seorang santri.
-

-
Setelah tracking, pondok melanjutkan pembinaan melalui pelatihan kedisiplinan, baris-berbaris, dan kekompakan tim. Kegiatan ini menjadi bagian dari pendidikan karakter yang ingin terus ditanamkan kepada santri. Bagi pondok, disiplin bukan sekadar kemampuan mengikuti instruksi, tetapi merupakan kebiasaan untuk menghargai waktu, menjalankan amanah, dan bertanggung jawab terhadap peran masing-masing. Para santri juga belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu berarti berada di posisi terdepan, tetapi mampu mendengar, bekerja sama, dan memberikan contoh yang baik. “Selama ini saya mengira disiplin itu hanya soal aturan. Hari ini saya belajar bahwa disiplin juga berarti menepati tanggung jawab dan tidak mengecewakan orang yang sudah mempercayai kita,” tutur seorang santri.
-
Pembinaan kemudian berlanjut dengan materi “Berkarya Bukan Membatasi Ruang Kerja: Blue Print Muslimah” yang disampaikan Ibu Dessy Malinda dari BSI Meruyung, didampingi BM BSI Meruyung Ibu Rita Kamilawati. Bagi pondok, menghadirkan sosok perempuan yang berkiprah di bidang ekonomi syariah menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan dan keberanian santri dalam menentukan masa depan. Ibu Dessy, seorang srikandi ekonomi syariah asal Aceh yang mengkhidmatkan dirinya di lembaga keuangan syariah, memberikan gambaran bahwa nilai-nilai Islam dapat berjalan seiring dengan profesionalisme dan karya. “Saya ingin suatu hari nanti bisa menjadi perempuan yang mandiri, punya ilmu, punya pekerjaan yang baik, tetapi tetap menjadi muslimah yang menjaga prinsip dan bisa membantu banyak orang,” ungkap salah seorang santri.
-
Nilai pembentukan karakter kembali diperkuat melalui materi “Menjadi Santri Unggul: Loyal, Profesional, dan Berdakwah” yang disampaikan Coach Jumadi Kurniawan dari BSI Maslahat. Pondok ingin menanamkan pemahaman bahwa perjalanan seorang santri tidak berhenti ketika ia menyelesaikan pendidikan di pondok. Ilmu yang diperoleh harus menjadi bekal untuk menjalankan amanah, berkarya secara profesional, dan menghadirkan dakwah melalui perilaku serta kontribusi nyata. Antusiasme santri selama mengikuti materi menunjukkan bahwa pesan tersebut mendapat ruang di hati mereka. “Saya ingin ketika nanti meninggalkan pondok, orang tidak hanya mengenal saya sebagai seorang santri yang pernah belajar di sini. Saya ingin mereka merasakan bahwa ilmu yang saya dapat benar-benar membuat saya bisa bermanfaat,” kata seorang santri.
-
Sore hari, pembinaan dilanjutkan melalui kegiatan outbound yang mengajak para santri belajar dengan cara yang lebih menyenangkan. Berbagai permainan dirancang untuk melatih komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Bagi pondok, kegiatan semacam ini menjadi ruang untuk melihat sekaligus melatih bagaimana santri bersikap ketika menghadapi tantangan bersama. Mereka belajar bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh kemampuan untuk saling percaya dan menguatkan. “Saya belajar bahwa teman bukan hanya orang yang bermain bersama kita. Teman juga orang yang harus kita bantu ketika dia kesulitan. Kalau satu orang tertinggal, yang lain harus menunggu dan menguatkan,” ujar salah seorang santri.

-
Malam harinya, pondok menghadirkan BOD Talk sebagai ruang refleksi bagi para santri untuk mendapatkan arahan dan nasihat langsung dari pimpinan yayasan. Pesan tentang cita-cita, masa depan, tanggung jawab, dan makna menjadi seorang santri menjadi bekal sebelum rangkaian hari ditutup dengan pentas seni dan api unggun.
-
Bagi pondok, Leadership Camp bukan sekadar kegiatan di luar kelas atau agenda tahunan, melainkan bagian dari proses pendidikan untuk mempersiapkan santri menghadapi kehidupan yang lebih luas. “Saya datang ke camp ini ingin mencari pengalaman, tetapi saya pulang nanti ingin membawa sesuatu yang lebih besar: keberanian untuk bermimpi dan keyakinan bahwa suatu hari saya bisa melakukan sesuatu yang berarti untuk orang lain,” ungkap seorang santri. Harapan pondok sederhana: setiap santri yang tumbuh di dalamnya kelak mampu membawa ilmu, menjaga nilai-nilai kebaikan, berani mengambil peran, dan menjadikan kehidupannya sebagai jalan untuk memberi manfaat bagi umat.

Dokumentasi lainnya :

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Blog Post Lainnya
LAYANAN PENDIDIKAN KHAIRUKUM
0821-6688-8506
info@khairukum.or.id
Jl. Kp. Kaliputih RT 03 RW 03 Desa Citayam Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor
Media Sosial
Rekening Donasi
Bank Syariah Indonesia
4646400468 an. RTQ Khairukum
-


Copyright 2026. All Rights Reserved by Ruang Baik