
Sebanyak 60 santri dan santriwati RTQ Khairukum mengikuti agenda motivasi dan penyuluhan tentang anti-bullying di lingkungan pesantren. Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk memberikan pemahaman kepada para santri mengenai bullying, tetapi juga membangun keberanian untuk memiliki cita-cita, mengenali potensi diri, serta menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan saling menguatkan.
Sesi pertama diisi dengan materi motivasi yang disampaikan oleh Hendra Aditya, S.E.I., M.E., selaku Pimpinan Ruang Baik. Para santri diajak kembali mengingat alasan awal mereka memilih belajar dan menghafal Al-Qur’an di pesantren. Dari pertanyaan sederhana tentang “Apa motivasi awal masuk pesantren?”, para santri kemudian diajak melakukan reset terhadap cita-cita mereka. Tidak berhenti pada membayangkan cita-cita, mereka juga diarahkan untuk menyusun rute perjalanan menuju cita-cita tersebut, mulai dari apa yang harus dilakukan hari ini, kebiasaan yang perlu dibangun, hingga tantangan yang harus dihadapi.
Suasana semakin hidup ketika materi motivasi diselingi dengan ice breaking dan praktik langsung. Para santri tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi diajak berinteraksi, berpikir, menjawab pertanyaan, dan melihat kembali potensi yang mereka miliki. Pesan yang dibangun adalah bahwa menjadi santri bukan berarti membatasi mimpi. Justru pesantren dapat menjadi tempat untuk menumbuhkan ilmu, karakter, kedisiplinan, dan keberanian untuk mengejar cita-cita yang lebih tinggi.
Setelah sesi motivasi, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan yang lebih mendalam mengenai bullying. Fenomena bullying yang terjadi di berbagai tempat, termasuk fakta dan kasus yang pernah muncul di Jepang serta lingkungan sekitar, menjadi bahan untuk membuat pembahasan terasa dekat dengan kehidupan para santri. Mereka diajak memahami secara runut apa itu bullying, bagaimana membedakan candaan dengan tindakan bullying, serta mengenali berbagai bentuk bullying yang dapat terjadi di lingkungan pertemanan maupun pesantren.
Para santri juga diberikan pemahaman mengenai dampak bullying terhadap korban. Sebuah perkataan yang dianggap sebagai candaan oleh pelaku belum tentu diterima sebagai candaan oleh orang lain. Karena itu, para santri diajak untuk lebih peka terhadap perasaan teman, menjaga ucapan, menghargai perbedaan, serta tidak membiarkan tindakan yang dapat merendahkan atau menyakiti orang lain. Pesan utamanya sederhana: bercanda boleh, tetapi jangan sampai candaan berubah menjadi luka bagi teman.
Sebagai penutup, seluruh santri dan santriwati Khairukum diajak menyatakan komitmen bersama melalui penandatanganan kesepahaman Santri Khairukum Anti-Bullying. Tanda tangan tersebut menjadi simbol kesediaan untuk tidak melakukan bullying, tidak membiarkan bullying terjadi, serta berusaha menjadi teman yang saling menghargai dan menguatkan. Dari cita-cita yang tinggi hingga komitmen menjaga sesama, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah kecil untuk membangun Pesantren Khairukum sebagai ruang belajar yang penuh kebaikan, persahabatan, dan bebas dari bullying.
Dokumentasi lainnya :








